Ereveld Menteng Pulo

Ereveld (Dutch War Cemetary) atau pemakaman bangsa belanda yang masih dikelola oleh Kerajaan Belanda, dan bersifat private, hanya keluarga dari para jenazah yang dimakamkan di komplek pemakaman ini yang boleh masuk. Namun orang umum, seperti saya dan teman-teman saya, bisa mengunjungi komplek pemakaman ini dengan mengajukan surat permohonan izin kunjungan ke Direktur OGS (Oorloch Gravenstichting /Yayasan Makam Kehormatan Belanda).

Kunjungan kami ke Ereveld Menteng Pulo dan Antjol diselesaikan dalam sehari. Ada peraturan-peraturan yang harus dipatuhi pengunjung, yaitu mengisi buku tamu (ada amplop kalau mau berdonasi), tidak boleh foto nama yang tertera di nisan (harus membelakangi), mungkin agak aneh, tapi tujuannya adalah menghormati mereka yang sudah meninggal, dan tentu saja jangan teriak-teriak atau berisik, berlaku sopan saja.

snapseed-5

Ereveld Menteng Pulo

Ereveld Menteng Pulo

Selain makam-makan yang tertata rapi dan bersih, di Ereveld Menteng Pulo ini terdapat Gereja Simultan (Simultaankerk) dan Columbarium (guci-guci abu). Peletakan batu pertama pada awal pembangunan gereja ini secara resmi dilakukan pada tanggal 8 Desember 1947 oleh Letjen. S.H. Spoor yang pada saat itu menjabat komandan tentara di Hindia Belanda. Letak Makam Kehormatan Belanda Menteng Pulo ini sebenarnya berada beberapa kilometer di luar kota Jakarta dan dipenuhi dengan pohon kelapa. Namun seiring perkembangan ibukota yang pesat, kini Makam Kehormatan Belanda Menteng Pulo dikelilingi oleh gedung-gedung tinggi.

Di Makam Kehormatan Belanda Menteng Pulo ini terdapat korban-korban dari kamp tawanan Jepang dan juga para militer Belanda yang wafat semasa pergolakan sesudah perang (1945-1949). Pada acara pembukaan Makam Kehormatan Belanda Menteng Pulo, Letjen. Spoor mengatakan, “Di Makam Kehormatan Belanda Menteng Pulo ini orang kulit putih dan kulit berwarna terbaring berdampingan, pria, wanita dan anak-anak dari pantai utara dan dari wilayah selatan Belanda yang subur dan juga dari kepulauan tropis yang beraneka ragam ini. Mereka semua akan dimakamkan disini tanpa memandang ras, agama, suku asal, pangkat atau kedudukan”. Letjen. Spoor yang wafat pada tanggal 25 Mei 1949, dimakamkan di Makam Kehormatan Belanda Menteng Pulo.

Bentuk-bentuk nisannya pun beragam, ada yang bentuk salib untuk yang beragama Kristen/Katolik, bentuk Bintang Daud yang beragama Yahudi, bentuk lurus namun atasnya bergelombang untuk beragama Islam, dan bentuk lainnya yang beragama lainnya maupun yang tanpa nama/tidak dikenal (Onbekenden).

Gereja Simultan dan Columbarium

Gereja Simultan bukanlah gereja yang aktif dan hanya digunakan untuk acara kenegaraan Belanda saja. Terdapat menara gereja yang tingginya 22 meter. Saya dan teman-teman saya memberanikan diri naik ke atas menara, dengan se-izin pengurus makam. Cukup memakan energi untuk naik ke atas menara. Selain melewati tangga menyatu dengan gedung dan yang terbuat dari besi tempa, kondisi ruangan yang pengap membuat napas berat, untungnya setelah sampai di atas menara terbayar dengan pemandangannya. Di atas menara yang berbentuk persegi empat, disetiap sudutnya terdapat empat simbol agama utama di dunia seperti bulan bintang, bintang daud, taiji, dan salib. Pemandangan dari atas menara sangat bagus, melihat penataan makam benar-benar sangat rapih dan bersih. Setelah dari atas menara, kami menuju Columbarium. Terdapat foto Raja dan Ratu Belanda (Raja Willem-Alexander dan Ratu Maxima) di dinding antara gereja dan Columbarium.

snapseed-6

Koridor Columbarium

Guci-guci abu tertata rapih dan di depannya terdapat kolam ikan yang dapat merefleksikan Columbarium serta koridornya. Di Columbarium ini diletakkan 754 guci berisi abu orang Belanda yang wafat sebagai tawanan Jepang dan dikremasi di Jepang dan terdapat guci abu dari para prajurit yang tak dikenal.  Di atas tempat guci abu tersebut dibuat sebuah ceruk dengan relief dinding bergambar: seorang wanita yang sedang mengangkat kedua tangannya. Di tangan kanannya memegang sebuah obor yang menyala, di atas kepalanya tertulis sebuah teks “Jiwa yang telah menang”, yang merupakan moto dari dinas pemakaman tentara yang berada di bawah naungan Tentara Kerajaan Hindia Belanda (KNIL). Di sebelah kanan dan kiri ceruk tersebut terdapat dua buah jendela dari kaca timah dengan gambar yang menyimbolkan persaudaraan antara bangsa Indonesia dan dengan bangsa Belanda.

Saya belum pernah setertarik ini mengunjungi lahan pemakaman, dan mungkin aneh juga kalau bisa sampai tertarik dengan lahan pemakaman. Namun, karena Makam Kehormatan Belanda tersebut ditata dengan sangat rapih dan bersih, sehingga jauh dari kesan seram dan horor, perasaan excited tersebut, memberikan kesan untuk menghormati mereka yang berada di lahan pemakaman tersebut dan sebagai refleksi diri sendiri. Ada beberapa kejadian aneh, saat kami mengambil foto di Makam Kehormatan Belanda Menteng Pulo tersebut. Tiba-tiba kamera GoPro saya berhenti tidak bisa dipakai untuk mengambil foto maupun menekan layar menunya, tidak lama kemudian, kamera digital teman saya mati total, padahal baterai kami penuh. Akhirnya kami berjalan ke arah halaman gereja, melewati lahan pemakaman Inggris yang hanya dibatasi pagar dengan lahan Makam Kehormatan Belanda Menteng Pulo, dan seketika kamera kami berjalan normal. Kami sempat mengobrol dengan salah satu pengurus makam, dan mata saya tertuju ke arah koridor Columbarium, sekilas terlihat seorang wanita mengenakan gaun putih berenda  model tahun 1900an, membawa payung putih berenda serta topi putih bulat,  berjalan di sepanjang koridor. Hal-hal tersebut adalah sesuatu yang menurut saya wajar, mengingat setiap tanah yang kita pijak ini umurnya lebih tua daripada kita dan tentunya merekam sejarah dari waktu ke waktu.

“Opdat Zij Met Eere Mogen Rusten”

DCIM100GOPROGOPR1202.

Di atas menara

Yayasan Makam Kehormatan Belanda

Jalan Panglima Polim Raya 23, Kebayoran Baru, Jakarta 12160

Telephone / Fax : 00 6221 7202983 / 00 6221 7252986

Museum Fatahillah

Museum Fatahillah atau Museum Sejarah Jakarta, merupakan Balai Kota Batavia VOC (Stadhuis van Batavia) yang dibangun pada tahun 1707-1710 atas perintah Gubernur Jenderal Johan Van Hoorn dan bangunan tersebut menyerupai Istana Dam di Amsterdam yang terdiri atas bangunan utama dengan dua sayap di bagian timur dan barat serta bangunan sanding yang digunakan sebagai kantor, ruang pengadilan dan ruang-ruang bawah tanah yang dipakai sebagai penjara. Pada tanggal 30 Maret 1974, gedung tersebut kemudian diresmikan sebagai Museum Fatahillah. (sumber: wikipedia)

Snapseed

Museum Fatahillah dan Sepeda Warna Warni

Pengalaman pertama masuk ke Museum Fatahillah hari Sabtu tanggal 3 September 2016, padahal udah sering banget ke kawasan Kota Tua, tapi belum pernah masuk ke dalam. Lapangan depan Museum Fatahillah sangat bersih dan kosong, saya berfikir, “kok tumben sepi banget, padahal sudah jam 10 pagi”, ternyata sudah tidak ada pedagang yang berjualan di lapangan tersebut, dipindahkan ke lorong antara Museum Wayang dan Bangi Kopitiam.

Loket tiket ada di sebelah kanan gedung, tertera harga tiket Rp 5.000,- untuk dewasa, Rp 3.000,- untuk mahasiswa dan Rp 2.000,- untuk pelajar/anak-anak, petugas tiket menawarkan kartu Jakcard seharga Rp 30.000,- dengan saldo Rp 20.000,- yang seterusnya akan digunakan untuk tiket masuk ke museum-museum di wilayah Kota Tua dan Kebun Binatang Ragunan serta Transjakarta, berlaku mulai pertengahan bulan September atau awal bulan Oktober 2016. Kartu tersebut dapat diperoleh dan dilakukan top up di halte-halte Transjakarta. Tapi, saya masih membayar manual tanpa kartu Jakcard.

Ukiran kayu singa bersayap

A mythical winged lion carved

Masuk ke dalam bangunan disambut dengan kursi kayu panjang yang sandaran tangannya berukirkan singa bersayap, yang mungkin perpaduan dari mitologi Islam dan Hindu, yang dibuat sekitar tahun 1920. Isi dalam gedung tersebut adalah lukisan-lukisan, foto-foto, mebel antik dari abad ke-17 sampai 19, replika peninggalan masa Tarumanegara dan Pajajaran, serta keramik, gerabah dan batu prasasti.Dari sekian banyak mebel-mebel dan lukisan, hanya dua yang menarik perhatian saya. Yang pertama kaca besar panjang yang terletak di lantai 2 sayap kanan dan lemari buku yang terletak di sayap kiri.

Snapseed

Kaca besar panjang

Sangat sulit untuk foto selfie di depan kaca besar ini, karena banyak sekali orang lalu lalang dan mengambil foto kaca yang langsung menarik perhatian ketika memasuki ruang sayap kanan di lantai 2.

Lemari Buku Besar

Lemari Buku Besar “Schepenkast”

Lemari sangat besar ini dibuat tahun 1748 untuk Dewan Pengadilan (Raad van Justitie) dan ukiran kayunya disepuh emas (prada). Pada bagian atas, sisi sebelah kiri terdapat patung Dewi Keadilan, dahulu tangan kanan membawa pedang keadilan dan tangan kiri membawa timbangan. Pada sisi sebelah kanan merupakan Dewi Kebenaran, dahulu tangan kanan membawa cermin dan tangan kiri mencekik seekor ular. Sekarang atribut ini tidak ada lagi. Di antara dua patung tersebut terdapat ukiran yang menggambarkan empat belas lambang keluarga dari anggota Dewan Pengadilan, termasuk pada bagian puncak lambang keluarga President, Mr. Reinier Stapel.

Pintu keluar gedung menuju ke halaman/taman belakang, sebelah kanan ada Toko Souvenir dan tangga menuju penjara wanita. Terdapat genangan air yang berada di penjara wanita tersebut, sangat kecil dan sempit dengan ukuran hanya 6 x 9 meter. Konon, dulu penjara ini ini dihuni sekitar 40-50 orang di dalamnya dan mereka dibiarkan begitu saja tanpa diberi makanan dan minuman. Sebagian dari tahanan ini meninggal sebelum adanya proses persidangan. Ketika air laut pasang, penjara akan terisi air laut dan merendam tubuh para tawanan, dan konon Cut Nyak Dien pernah berada di penjara tersebut.

Penjara laki-laki terpisah dengan penjara wanita, sejalan dengan arah pintu keluar seberang gedung BNI. Penjara tersebut terdiri dari beberapa ruang dan banyak bola-bola besi yang berat, dulu digunakan untuk mengikat para kaki para tahanan agar tidak melarikan diri, tetap dibiarkan berada di dalam ruangan yang sempit dan gelap. Hanya satu ruangan yang saya intip dalamnya, bahkan ada pengunjung yang berfoto di dalam penjara. Saya hanya bisa mengucap “I’m Sorry and Please Rest in Peace“, sepanjang saya menyusuri penjara tersebut.

Snapseed (2)

Keluar dari Museum Fatahillah langsung disambut hiruk pikuk kendaraan di jalanan dan pedagang-pedagang yang menawarkan tongkat narsis (monopod/tongsis) dan manusia patung seperti Jenderal Sudirman dan Noni Belanda yang menggunakan gaun berwarna merah muda untuk berfoto bersama. Bagi saya, Museum Fatahillah serta gedung-gedung maupun museum-museum lainnya yang tetap berdiri kokoh, menyimpan ribuan cerita tentang masa lalu bangsa maupun individu-individunya, adalah warisan sejarah yang indah ataupun kelam, lain waktu mungkin saya akan datang kembali di waktu sore hari, untuk mendapatkan pengalaman yang lebih berbeda.

Catatan:

Mulai tanggal 15 September – 31 Desember 2016, Jalan Kali Besar akan ditutup sebagian dan Jalan Kali Besar Timur akan ditutup total karena ada pekerjaan proyek Revitalisasi Kota Tua

Informasi Museum Fatahillah:

Waktu Operasional:

Selasa – Minggu pukul 08.00 – 17.00 WIB, sedangkan hari Senin dan hari libur nasional museum tersebut tutup