Museum Fatahillah

Museum Fatahillah atau Museum Sejarah Jakarta, merupakan Balai Kota Batavia VOC (Stadhuis van Batavia) yang dibangun pada tahun 1707-1710 atas perintah Gubernur Jenderal Johan Van Hoorn dan bangunan tersebut menyerupai Istana Dam di Amsterdam yang terdiri atas bangunan utama dengan dua sayap di bagian timur dan barat serta bangunan sanding yang digunakan sebagai kantor, ruang pengadilan dan ruang-ruang bawah tanah yang dipakai sebagai penjara. Pada tanggal 30 Maret 1974, gedung tersebut kemudian diresmikan sebagai Museum Fatahillah. (sumber: wikipedia)

Snapseed

Museum Fatahillah dan Sepeda Warna Warni

Pengalaman pertama masuk ke Museum Fatahillah hari Sabtu tanggal 3 September 2016, padahal udah sering banget ke kawasan Kota Tua, tapi belum pernah masuk ke dalam. Lapangan depan Museum Fatahillah sangat bersih dan kosong, saya berfikir, “kok tumben sepi banget, padahal sudah jam 10 pagi”, ternyata sudah tidak ada pedagang yang berjualan di lapangan tersebut, dipindahkan ke lorong antara Museum Wayang dan Bangi Kopitiam.

Loket tiket ada di sebelah kanan gedung, tertera harga tiket Rp 5.000,- untuk dewasa, Rp 3.000,- untuk mahasiswa dan Rp 2.000,- untuk pelajar/anak-anak, petugas tiket menawarkan kartu Jakcard seharga Rp 30.000,- dengan saldo Rp 20.000,- yang seterusnya akan digunakan untuk tiket masuk ke museum-museum di wilayah Kota Tua dan Kebun Binatang Ragunan serta Transjakarta, berlaku mulai pertengahan bulan September atau awal bulan Oktober 2016. Kartu tersebut dapat diperoleh dan dilakukan top up di halte-halte Transjakarta. Tapi, saya masih membayar manual tanpa kartu Jakcard.

Ukiran kayu singa bersayap

A mythical winged lion carved

Masuk ke dalam bangunan disambut dengan kursi kayu panjang yang sandaran tangannya berukirkan singa bersayap, yang mungkin perpaduan dari mitologi Islam dan Hindu, yang dibuat sekitar tahun 1920. Isi dalam gedung tersebut adalah lukisan-lukisan, foto-foto, mebel antik dari abad ke-17 sampai 19, replika peninggalan masa Tarumanegara dan Pajajaran, serta keramik, gerabah dan batu prasasti.Dari sekian banyak mebel-mebel dan lukisan, hanya dua yang menarik perhatian saya. Yang pertama kaca besar panjang yang terletak di lantai 2 sayap kanan dan lemari buku yang terletak di sayap kiri.

Snapseed

Kaca besar panjang

Sangat sulit untuk foto selfie di depan kaca besar ini, karena banyak sekali orang lalu lalang dan mengambil foto kaca yang langsung menarik perhatian ketika memasuki ruang sayap kanan di lantai 2.

Lemari Buku Besar

Lemari Buku Besar “Schepenkast”

Lemari sangat besar ini dibuat tahun 1748 untuk Dewan Pengadilan (Raad van Justitie) dan ukiran kayunya disepuh emas (prada). Pada bagian atas, sisi sebelah kiri terdapat patung Dewi Keadilan, dahulu tangan kanan membawa pedang keadilan dan tangan kiri membawa timbangan. Pada sisi sebelah kanan merupakan Dewi Kebenaran, dahulu tangan kanan membawa cermin dan tangan kiri mencekik seekor ular. Sekarang atribut ini tidak ada lagi. Di antara dua patung tersebut terdapat ukiran yang menggambarkan empat belas lambang keluarga dari anggota Dewan Pengadilan, termasuk pada bagian puncak lambang keluarga President, Mr. Reinier Stapel.

Pintu keluar gedung menuju ke halaman/taman belakang, sebelah kanan ada Toko Souvenir dan tangga menuju penjara wanita. Terdapat genangan air yang berada di penjara wanita tersebut, sangat kecil dan sempit dengan ukuran hanya 6 x 9 meter. Konon, dulu penjara ini ini dihuni sekitar 40-50 orang di dalamnya dan mereka dibiarkan begitu saja tanpa diberi makanan dan minuman. Sebagian dari tahanan ini meninggal sebelum adanya proses persidangan. Ketika air laut pasang, penjara akan terisi air laut dan merendam tubuh para tawanan, dan konon Cut Nyak Dien pernah berada di penjara tersebut.

Penjara laki-laki terpisah dengan penjara wanita, sejalan dengan arah pintu keluar seberang gedung BNI. Penjara tersebut terdiri dari beberapa ruang dan banyak bola-bola besi yang berat, dulu digunakan untuk mengikat para kaki para tahanan agar tidak melarikan diri, tetap dibiarkan berada di dalam ruangan yang sempit dan gelap. Hanya satu ruangan yang saya intip dalamnya, bahkan ada pengunjung yang berfoto di dalam penjara. Saya hanya bisa mengucap “I’m Sorry and Please Rest in Peace“, sepanjang saya menyusuri penjara tersebut.

Snapseed (2)

Keluar dari Museum Fatahillah langsung disambut hiruk pikuk kendaraan di jalanan dan pedagang-pedagang yang menawarkan tongkat narsis (monopod/tongsis) dan manusia patung seperti Jenderal Sudirman dan Noni Belanda yang menggunakan gaun berwarna merah muda untuk berfoto bersama. Bagi saya, Museum Fatahillah serta gedung-gedung maupun museum-museum lainnya yang tetap berdiri kokoh, menyimpan ribuan cerita tentang masa lalu bangsa maupun individu-individunya, adalah warisan sejarah yang indah ataupun kelam, lain waktu mungkin saya akan datang kembali di waktu sore hari, untuk mendapatkan pengalaman yang lebih berbeda.

Catatan:

Mulai tanggal 15 September – 31 Desember 2016, Jalan Kali Besar akan ditutup sebagian dan Jalan Kali Besar Timur akan ditutup total karena ada pekerjaan proyek Revitalisasi Kota Tua

Informasi Museum Fatahillah:

Waktu Operasional:

Selasa – Minggu pukul 08.00 – 17.00 WIB, sedangkan hari Senin dan hari libur nasional museum tersebut tutup

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s